Labels

Showing posts with label Shirah Nabawiyah. Show all posts
Showing posts with label Shirah Nabawiyah. Show all posts

Wednesday, 24 February 2016

Sirah nabawiyah part4 Hidup di tengah kabilah BANI SA'AD

👓Tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab yang sudah berperadaban adalah mencari para wanita yang dapat menyusui bayi-bayi mereka sebagai tindakan prefentif terhadap serangan penyakit-penyakit yang biasa tersebar di alam peradaban. Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi mereka tersebut kuat, otot-otot mereka kekar serta menjaga agar lisan Arab mereka tetap orisinil sebagaimana lisan ibu mereka dan tidak terkontaminasi.

Oleh karena itu, ‘Abdul Muththalib mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; dia memilih seorang wanita dari kabilah Bani Sa’ad bin Bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzuaib sebagai wanita penyusu beliau. Suami dari wanita ini bernama al-Harits bin ‘Abdul ‘Uzza yang berjuluk Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.

Dengan begitu, di sana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki banyak saudara sesusuan, yaitu; ‘Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti al-Harits (dialah yang berjuluk asy-Syaima’ yang kemudian lebih populer menjadi namanya dan yang juga merawat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) serta Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abdul Muththalib, saudara sepupu Rasulullah.

Paman beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib juga disusui di tengah kabilah Bani Sa’ad bin Bakr. Ibunya juga menyusui beliau selama sehari, yaitu ketika beliau berada disisi ibu susuannya, Halimah.

Dengan demikian Hamzah merupakan saudara sesusuan Rasulullah dari dua sisi : Tsuaibah dan (Halimah) as-Sa’diyyah.

Halimah merasakan adanya keberkahan serta kisah-kisah yang aneh lainnya sejak kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah keluarganya.

🍀kisah keberkahan dan rezeki yang melimpah pada Bani Sa'ad🍀

👳🏻Ibnu Ishaq berkata: ‘Halimah pernah berkisah: bahwasanya suatu ketika dia pergi keluar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua. Demi Allah! Tidak pernah hujan turun meski setetespun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur pulas lantaran tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan ASI di payudaraku tidak mencukupi. Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku kembali pergi keluar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit.

🍼Akhirnya kami sampai juga ke Mekkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun diantara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim. Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?. Kami semua tidak menyukainya karena hal itu; akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku.

Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku: ‘demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku’. Lalu suamiku berkata: ‘tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan’.

Akhirnya aku pergi ke rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain selain beliau. Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku.

Ketika dia kubaringkan di pangkuanku dan menyusui dengan ASI yang ada seberapa dia suka, diapun menyusu hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang pula. Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut.

🐪Suamiku mengontrol Unta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan.

Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku:‘ demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah?; kamu telah mengambil manusia yang diberkahi’. Aku berkata: ‘demi Allah! Aku berharap demikian’.

🐫Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi Unta betinaku dan membawa serta beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam diatasnya.

Demi Allah! Unta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh unta-unta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku : ‘wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah unta ini yang dulu pernah bersamamu ?’, aku menjawab:‘demi Allah! Inilah unta yang dulu itu!’. Mereka berkata:‘demi Allah! Sesungguhnya unta ini memiliki keistimewaan’. Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa’ad.

Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya; ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: ‘celakalah kalian! Pergilah membuntuti kemana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya.’ Meskipun demikian, realitasnya, kambing-kambing mereka tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan air susu setetespun sedangkan kambingku selalu kenyang dan banyak air susunya. Demikianlah, kami mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya.

Dia tumbuh besar namun tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya; sebab belum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya dan itu semua kami ceritakan kepada ibundanya. Aku berkata kepadanya: ‘kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Mekkah’. Kami terus mendesaknya hingga dia bersedia mempercayakannya kepada kami lagi”.
-selesai kisah dari Ibnu Ishaq–

Begitulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya tetap tinggal di lingkungan kabilah Bani Sa’ad, hingga terjadinya peristiwa dibelahnya dada beliau ketika berusia empat atau lima tahun.

💎Peristiwa Pembelahan Dada💎

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh Jibril ‘alaihissalam saat beliau tengah bermain bersama teman-teman sebayanya. Jibril memegang beliau sehingga membuatnya pingsan lalu membelah bagian dari hatinya, kemudian mengeluarkannya segumpal darah bersamanya. Jibril berkata: ‘ini adalah bagian syaithan yang ada pada dirimu! Kemudian meletakkannya di dalam baskom yang terbuat dari emas dan mencucinya dengan air zam-zam, merapikan dan mengembalikannya ke tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya berkata:‘sesungguhnya Muhammad sudah dibunuh!’. Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya dan menemukannya dalam kondisi rona muka yang sudah berubah. Anas berkata: ‘sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ‘.

📚Sumber: Ar-Rahiq Al-Makhtum, Sirah Nabawiyah oleh Al-Mubarakfuri.

Wednesday, 17 February 2016

Wafatnya Abdullah Ayahanda Rosulullah


Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam belum pernah melihat ayahnya yang telah meninggal dunia di Madinah, ditengah-tengah keluarga paman dari pihak ibunya dari Bani 'Adi bin Najjar. Pada saat ada kepentingan dagang, lalu ia jatuh sakit ketika ia hendak kembali. Dan akhirnnya meninggal dunia, lalu dikubur disana. Dan riwayat yang paling kuat adalah perkataan Az-zuhri secara mursal : "Abdul Muthalib mengutus Abdullah bin Abdul Muthalib mengurus kurma yang dibawa dari yatsrib lalu Abdullah meninggal dunia ditengah perjalannya.Tidak lama kemudian Aminah melahirkan Rasululloh dan beliau berada dibawah asuhan kakeknya, Abdul Muthalib. Ada sebuah hadist yang sesuai dengan perkataan Az-zuhri yaitu diriwayatkan oleh Qais bin Makhramah seorang sahabat yang menyebutkan kelahiran Rasululloh, ia berkata : "Ayahnya meninggal dunia ketika ibunya sedang mengandungnya."( Al-hakim, Al-mustadrak 2:605).
Yang Masyhur bahwa Nabi dilahirkan dalam keadaan yatim. Ibnu katsir berkata : "Ini merupakan keyatiman yang sangat baik dan palinh tinggi derajatnya"(ibnu katsir, As-sirah 1:260).
Dan didalam Alquran telah disebutkan keyatiman beliah : "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?"(QS. Ad-dhuha : 6).

💫Perihal kehamilan Aminah💫

Ada riwayat-riwayat yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain sampai derajat hasan, seputar masalah kelahiran beliau yang menyatakan bahwa ketika Aminah melahirkan, ia melihat seberkas cahaya keluar dari dirinya dan menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam

🍼Wanita-Wanita yang pernah menyusui Nabi🍼

Dalam hadist shahih dinyatakan bahwa tsuwaibah -hamba sahaya abu lahab- pernah menyusui beliau. Dinyatakan dalam suatu riwayat bahwa paman beliau Hamzah bin Abdul Muthalib adalah saudara sepersusuan beliau. Adapun riwayat tentang Halimah As-Sa'diyah yang menyusui beliau dr Bani saad dan keberkahan yang beliau didusun bani sa'ad dan keberkahan yang beliau bawa, maka riwayat ini terdapat hampir diseluruh buku-buku sirah, baik yang kuno maupun yang baru, dan yang pertama kali menampilkan ini dalam buku sirah adalah Muhammad bin Ishaq (wafat 151 H).
Dan penyusuan nabi kepada Halimah As-Sa'diyah di Bani Sa'ad tetap kuat periwayatannya karena didukung oleh riwayat-riwayat dari jalan lain.

________________________________
   AIHQ PREMIUM DK PSDM
                       ODOJ
________________________________

Thursday, 11 February 2016

Mengenal Lebih Dekat Rosulullah (bagian 2)

🔩💦Menggali Zam-zam💦🔩

💧Kemuliaan orang-orang terpandang dalam keluarga Nabi di Makkah banyak sekali.
Misalnya; Qushay -kakek Hasyim dan Hasyim adalah kakek ayah Nabi (Abdullah)- adalah orang paling menonjol dikalangan kaum Quraisy pada zamannya. Dialah yang mengatur administrasi Makkah dengan cara membangun balai pertemuan yang dijadikan sebagai tempat pertemuan bagi pemuka-pemuka Quraisy. Begitu juga ia membagi tugas-tugas penting seperti menjamu dan memberi minum para jamaah haji dan memegang panji yang diberikan kepada setiap keluarga Quraisy.

💧Setiap keluarga menjaga kedudukannya masing-masing pada masa Abdul Muthalib, yang menjadi terkenal dengan sebab menggali sumur zam-zam yang tetap eksis hingga berabad-abad yang mencerminkan sumber mata air terpenting di Makkah.

💧Sangat penting untuk kita ketahui adalah tentang kisah penggalian sumur zam-zam oleh seorang sahabat agung Ali bin Abi thalib. Dan nampak jelas bahwa riwayat tersebut cukup dikenal dan masyhur mengingat dekatnya pembawa kisah dengan masa yang terkait. Barangkali Ali mendengar dari ayahnya yang mendengar langsung dari kakeknya, Abdul Muthalib sehubungan dengan peranannya.

💧Kesimpulan dari kisah yang diceritakan oleh Abdul Muthalib bahwasanya ia pernah bermimpi selama empat malam, yaitu ada seseorang yang mendatangi dan menyuruhnya untuk menggali lagi sumur zam-zam tanpa menentukan letaknya. Dan pada kali keempat ia datang dengan menentukan posisi sumur dan menyebutkan namanya dengan jelas "zam-zam". Maka Abdul Muthalib pun mulai menggali sumur tersebut sesuai posisi yang dimaksud, dan tidak lama setelah itu muncullah airnya.
Kaum Quraisy pun mulai mempermasalahkannya dan menuntut untuk berkongsi dengannya mengenai urusan air tersebut. Tetapi Abdul Muthalib menolaknya, hingga akhirnya merekapun mengadukan permasalahan mereka kepada seorang dukun wanita. Akan tetapi sebelum mereka sampai kedukun wanita itu, Abdul Muthalib dan rekannya kehabisan bekal air. Kaum Quraisy pun enggan untuk mengajaknya berkongsi dalam urusan air yang ada pada mereka, karena berambisi untuk mendapatkan air yang ada di padang pasir.
Tatkala Abdul Muthalib dan rekannya hampir binasa dan mereka menggali tanah untuk kuburan mereka, tiba-tiba terpancarlah sumber mata air dibawah bekas galian unta betina milik Abdul Muthalib atas air zam-zam, maka akhirnya merekapun menyerahkannya lagi kepada Abdul Muthalib.

💧Tidak diragukan bahwa peristiwa serta wewenang atas sumber air tersebut, cukup mengangkat martabat dan harga diri Bani Hasyim di Makkah.

💢Nadzar Abdul Muthalib💢

🍂Ada riwayat Shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas, ia berkata :
" Abdul Muthalib bin Hasyim pernah bernadzar, jika Allah memberinya 10 anak laki-laki maka ia akan mengorbankan (menyembelih) salah seorang diantara mereka(dihadapan ka'bah). Maka tatkala Allah memberinya 10 orang anak, ia akan mengundi diantara mereka siapa yang akan dikorbankan, undian itu jatuh kepada Abdullah. Padahal Abdullah adalah anak yg paling dicintai oleh Abdul Muththalib. Ia pun berkata "Ya Alloh, dia (Abdullah) atau 100 ekor unta sebagai tebusannya?", kemudian ia mengundi antara Abdullah dengan unta, maka undian itu jatuh pada 100 ekor unta.

🍂Peristiwa ini memberikan inspirasi  tentang apa yang sudah digariskan oleh takdir ilahi dari kelahiran Rasulullah dr ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib. Sungguh kehidupan Abdullah telah dijaga oleh Allah dengan memalingkan niat Abdul Muthalib yang hendak mengorbankannya.

💖Pernikahan Abdullah dengan Aminah💖

Secara historis disebutkan bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib menikah dengan Aminah binti wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab sedangkan Bani Zuhrah adalah bagian dari keluarga besar Quraisy. Abdul Muthalib menikahi Halah binti Wuhaib, sedangkan wuhaib adalah paman Aminah dan aminah dididik dirumah pamannya tersebut.

📚Sumber : Shahih shirah Nabawiyah Dr.Akram Dhiya Al Umuri
_________________________________
   AIHQ PREMIUM DK PSDM
          🌵🏠ODOJ🏠🌵
_________________________________

Mengenal Lebih Dekat Rosulullah (Bagian 1)

Nasab Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dilahirkan pada hari Senin pagi, 12 Rabi'ul Awwal, tahun gajah. Bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M. Beliau dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku yang paling terhormat dan terpandang di tengah masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, beliau berasal dari Bani Hasyim, anak suku yang juga paling terhormat di tengah suku Quraisy.
Dengan Nasab sebagai berikut :

Nasab Nabi Muhammad Terbagi Menjadi 3 Juz

1. Dari Baginda Nabi Sampai Adnan (Yang Harus Di Ketahui)

2. Dari Adnan Sampai Nabi Ibrohim

3. Dari Nabi Ibrohim Sampai Nabi Adam

📝Berikut Nasab yang wajib di ketahui

1. Baginda Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi Wasallam
2. Bin Abdullah
3. Bin Abdil Muthallib (Syaibah)
4. Bin Hasyim (Amrun)
5. Bin Abil Manaf (Mughiroh)
6. Bin Qushoi (Zaid)
7. Bin Kilab
8. Bin Murroh
9. Bin Ka'ab
10. Ibni Luay
11. Bin Gholib
12. Bin Fihr (julukannya adlh Quraisy yg kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya)
13. Bin Malik
14. Bin Nadlr (Qois)
15. Bin Kinanah
16. Bin Khuzaimah
17. Bin Mudrikah (amir)
18. Bin Ilyas
19. Bin Mudlor
20. Bin Nizar
21. Bin ma'add
22. Bin Adnan

🔍Sifat dan Ciri Rasululloh🔎

Rasululloh shallalahu 'alaihi wa sallam termasuk manusia yg paling tampan.

💫Warna kulitnya putih bersih, mukanya bundar, parasnya menarik, mulutnya lebar,lebar kedua belah matanya, rambutnya yg ikal tersisir hingga ke ujung kedua telinganya, kadang-kadang hingga antara kedua telinga dan pundaknya,kadang-kadang pula memanjang hingga kedua bahunya.
Rambutnya yang hitam itu tidak beruban kecuali sedikit.
Pada akhir-akhir usia diperkirakan ubannya sekitar dua puluhan helai yang letaknya terpisah-pisah, dikepala, dibawah mulut dan pada kedua pelipisnya. Dan pada sebagian rambutnya, nampak warna kemerah-merahan pengaruh dari minyak wangi.

💫Postur tubuh beliau sedang, tidak terlalu besar,perawakan  beliau tidak kurus dan tidak pula gemuk,dadanya lebar,kedua tangan dan kakinya besar,kedua telapak tangannya luas dan lembut, kedua tumitnya tidak gemuk, diatas pundaknya yang sebelah kiri terukir stempel kenabian berupa rambut yang berkumpul seperti kancing.

💫Ciri-ciri fisik ini menunjukkan keindahan lahir,kesempurnaan fisik, dan kemampuannya untuk bangkit melakukan tugas-tugas besar yang terkait dengannya.Musuh-musuh tidak menemukan sesuatu yang bisa dicela pada lahirnya atau menggelarinya dengan sesuatu yang mengarah pada celaan.
Disamping bagusnya bentuk lahiriyahnya dan sempurnanya panca indera serta anggota badannya, beliau memiliki perhatian khusus terhadap lahiriyahnya berupa menjaga kebersihan, penampilan yang memikat, dan menggunakan parfum.

💫Adapun sifat-sifat beliau, Alquran lah yang menyebutkannya, Allah subhanahu wata'ala berfirman

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". (QS. Alqalam:4)

📗Aisyah Rodhiallohu 'anha berkata :" Akhlak Rasulululloh adalah Alquran" (HR.Muslim dalam kitab Shahih 1:746)

💫Setelah mempelajari sirah beliau, dan membaca hadist-hadist tentang sifatnya, kita dapat permisalan sikap rendah hati yang diiringi keberanian, kemuliaan yg jujur dan jauh dari keinginan untuk tampil, sifat amanah yg sudah masyhur dikalangan manusia, kejujuran kata maupun tindakan, zuhud didunia ketika harus berhadapan dengannya dan tidak mengincarnya ketika tidak bersamanya, senantiasa ikhlas karena Alloh dalam setiap apa yang bersumber darinya, lidahnya yang fasih serta keteguhan hatinya, kuatnya pikiran dan sempurnanya pemahaman, kasih sayang kepada orang tua dan anak-anak, lemah lembut, perasaan lembut, toleransi dan pemaaf bagi yang melakukan kesalahan serta jauh dari sifat kasar, garang dan kaku, sabar dalam kondisi menyulitkan dan berani mengatakan kebenaran.

📚Sumber :
🔺Sirah Nabawiyah Ar-Rahiq Al-Maktum oleh Al- Mubarakfuri
🔺Shahih Sirah Nabawiyah Dr.Akram Dhiya Al-Umuri hlm. 86-87