Labels

Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Thursday, 18 February 2016

"SUATU HARI DI MAJELIS IMAM MALIK"

Lebih dari 6 tahun yang lalu, tepatnya pada waktu dhuha tanggal 7 November 2009 M, untuk pertama kalinya diri ini menapakkan kaki di kampus impian penuntut ilmu.

Tak terasa semua berjalan begitu cepat..
Dan kini... Waktuku telah berada dipenghujung senja. Terlalu banyak kenangan di kota ini.

Sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya ingin menceritakan kembali sebuah kisah yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi sekaligus pemicu semangat bagi saya selama berada di kota ini. Cerita ini tentang pemuda Andalus yang menyimpan kerinduan mendalam agar bisa belajar di kota nabi.

Yahya bin Yahya Al Laitsi, begitulah orang-orang memanggilnya. Pemuda itu lahir dan dibesarkan di bumi Andalus yang jauh di dataran barat Eropa.
Sejak menapakkan kakinya di jalan ilmu, hatinya telah memendam keinginan untuk melakukan Rihlah (pengembaraan) dalam rangka menuntut ilmu. Rihlah sudah menjadi tradisi penuntut ilmu dimasa itu.

Setelah merasa cukup dengan ilmu yang didapat di negeri asalanya, akhirnya ia bertekad untuk mewujudkan keinginan yang dipendamnya selama ini.
Pilihannya jatuh ke kota Madinah, tempat dimana Imam Malik bin Anas –rahimahullah- tinggal dan mengampuh majelis ilmu.

Andalus dan Madinah memang bukan jarak yang dekat, seperti halnya Madinah dan Indonesia. Ditambah lagi transportasi dimasa itu sangat sulit. Namun tekadnya sudah benar-benar bulat. tatapannya hanya tertuju pada satu arah, Madinah Nabawiyah. Semua itu tentunya berbayar. Karena bagi seorang Yahya, rihlah berarti melupakan sejenak keindahan Andalus dan bersabar menghadapai kenyataan hidup di dataran Hijaz yang tandus. Namun tekad kuat yang disertai keikhlasan telah membuat jarak yang jauh itu terasa dekat, ruang dan waktu seolah sempit, serta keindahan kampung halaman tak lagi berarti.

Setibanya di Madinah, tanpa basa-basi pemuda Andalus itu langsung duduk dimajelis Imam Malik bin Anas, seolah tak ada waktu rehat baginya. Dalam benaknya meninggalkan keluarga, sanak saudara dan kampung halaman bukanlah pengorbanan yang kecil, sehingga terlalu mahal bila harus mengambil rehat sejenak karena letih setelah melakukan perjalanan yang jauh.

Hari-hari di Madinah dilaluinya dengan semangat yang tak kenal kendor, semua itu demi mengurai benang asa yang dirajutnya dulu di tanah air tercinta, bumi Andalus. Hingga suatu hari, saat tengah mendengarkan kajian Imam Malik, tiba-tiba ada serombongan musafir memasuki Madinah.
Imam Ad Dzahabi menuturkan, "Saat itu para musafir datang membawa gajah. Murid-murid Imam Malikpun berhamburan keluar untuk melihat gajah tersebut dari dekat.
Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Ia tetap duduk dan memandang ke satu arah, kemana lagi kalau bukan kearah Imam Malik. Melihat hal itu Imam Malik mendekat dan bertanya, ”mengapa engkau tidak keluar untuk melihat gajah?”. Yahya menjawab,”aku jauh-jauh datang dari Andalusia hanya untuk melihat anda (menuntut ilmu), bukan untuk melihat gajah”. Keteguhan itu membuat Imam Malik berdecak kagum. Sejak peristiwa itu Imam Malik menjulukinya ‘aqilul andalus’ (lelaki berakal dari Andalusia).

Sahabat… Kisah Yahya bin Yahya bukan soal suka atau tidak suka melihat gajah, namun ada pesan lain disana, yaitu tentang sikap yang harus diambil saat seorang penuntut ilmu mulai tergoda oleh hal-hal yang tidak seharusnya membuatnya berpaling sedikitpun dari cita-cita awalnya.

Dalam meraih asa, betapa sering langkah kita terhenti oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Kadang semangat untuk menjadi berarti itu kendor hingga titik nadir lantaran keteledoran yang mulanya sebatas iseng-iseng saja. Iseng-iseng main game, iseng-iseng ngetravel, atau mungkin terbawa mental taswif ‘nanti dulu’, sebentar dulu, hingga akhirnya semangat awal yang telah dipupuk ditanah air perlahan-lahan redup. Ibarat pepatah "layu sebelum berkembang", bukan karena terik dan tandusnya Madinah, namun karena tandusnya jiwa, rapuhnya azam karena gagal menata niat dan motivasi sebelum datang ke kota Madinah ini.

Kawan… Kisah Yahya Al Yahya hanyalah satu dari sekian kisah penuntut ilmu yang pernah singgah di kota ini. Kisah ini mengajak kita untuk selalu terjaga dan sepenuhnya sadar arti kehadiran kita di negeri ini.

Yahya bin Yahya tidak hanya mengajari kita soal uluwul himmah (obsesi yang tinggi), namun dia juga mengajari kita soal kesadaran diri agar terampil menata jiwa dihadapan cita-cita supaya tidak keluar dari tujuan semula.
Bukankah Imam Malik menghentikan pelajaran sejenak dan membiarkan murid-muridnya melihat gajah itu.?
Namun filosofi luhur dibalik pilihan seorang Yahya mencerminkan kecerdasan tentang bagaimana seorang muslim memahami godaan-godaan konsistensi yang membuat raga terhenti mengejar asa.
Begitulah seharusnya kita menata jalan cita-cita selama di negeri ini. Ingat kawan kita tidak punya waktu yang lama. Ilmu lebih banyak dari waktu yang kita miliki.
Kata seorang salaf:

العلم إذا أعطاك كلك لا يعطيك إلا بعضه

Ilmu itu, bila semua potensimu kau curahkan untuk meraihnya dia tidak akan memberimu melainkan setengahnya saja.

Nah Bagaimana kalau kita setengah-setengah…?

Sebagai penuntut ilmu syar'ie menata cita-cita adalah sebuah keharusan. Karena di jalan ilmu inilah hidup seorang penuntut ilmu menjadi berarti.

"Aku datang untuk menuntut ilmu bukan untuk melihat gajah."

Andalus dan Madinah terlampau jauh untuk sekedar melihat gajah,
seperti halnya Madinah dan Indonesia.

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Universitas Islam Madinah
___________________
Riyadh 28 shafar 1436 H
Repost 09-05-1437 H
ACT El Gharantaly


Repost 8 jumadal awal 1437

💻 www.kajiantemanggung.com
📚 Channel Telegram https://goo.gl/foFM5Z
👥 WA & TG Kajian Kadang Temanggung (+6281210152298)
📦 Sunduq Dakwah BRI  0842-01-029843-53-2 (an. SUKAEMI)

Tuesday, 16 February 2016

Sebait Catatan Nasihat (Alm) Ustadz Rahmat Abdullah.. (Aktivis Dakwah dr tanah Betawi)

Sebait Catatan Nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah..
(Aktivis Dakwah dr tanah Betawi)

"Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah"

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi... mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan 'manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang... Dakwah ini berat... karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini... mengarungi jalan perjuangan... kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya... Tetaplah disini... dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh... Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri... karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan...

Jika bersama dakwah saja... kau serapuh itu...Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???
(Semoga bermanfaat)

Saturday, 13 February 2016

SEMUA SEMU

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja. Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa  menit kemudian ia menyapa saya.

“Dik hendak ke Jogja juga?”

“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”

“Iya.”

“Bapak sendiri?”

“Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang. “Dik kerja dimana?”

“Saya serabutan, Pak,” sahut saya sekenanya.

“Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”

Saya tertegun. “Kok begitu, Pak?”

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia.  Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA. 

Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua. 
Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via BBM bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”

“Bapak, Bapak yang sabar ya….” Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu. 

Ia tersenyum kecut. “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik... 
Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki... 
Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”

Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat abah saya. 

Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagai permadani putih. 
Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut. Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat... 

Subhaanaka...Laa ilaaha illaa Anta ini kuntu minazh-zhaalimiin. Maha suci Engkau, Tuhanku…. Bimbing diri ini agar tidak tersesat dlm menjalani hidup dan kehidupan ini. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki...

*****

Friday, 12 February 2016

Mengajak Anak Mengenal Allah

Pembahasan kita saat ini, berkaitan dengan parenting Islami dalam mengenal Allah Swt.
Bagaimana cara untuk mengajak anak mengenal Allah?
Mari kita mengajak anak untuk mengenal Allah sejak dini.

👣Mengajar Anak Mengenal Allah

🙇🏻Salah satu kewajiban orang tua Muslim adalah memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan Allah SWT agar kelak mereka menjadikan Allah sebagai sumber kebahagiaan mereka.

Mereka taat kepada Allah karena paham perintah Allah membuat mereka tentram. Menjaga sikap dan berbuat baik kepada sesama, karena mereka sadar, itu adalah perintah Allah yang digariskan kepada mereka demi kebahagiaan mereka pula. Dan terakhir, agar kelak mereka mengenal Allah dan menjadikanNya sebagai tempat bergantung dan meminta pertolongan.

🙇🏻Agar Anak Mengenal Allah, Lakukan Langkah-langkah yang Tepat

Modal utama kita untuk mendidik putra-putri kita, adalah keteladanan. Jadi, bila kita ingin kelak anak-anak kita mengenal Allah dengan baik, maka kita pun harus mengenal Allah dengan baik pula.

Setelah diri kita mengenal Allah (dan selalu berproses untuk semakin mengenalNya), maka kini saatnya kita mengenalkan Allah kepada anak-anak kita. Dan berikut adalah tahapan untuk mendidik agar anak Anda mengenal Allah  :

1⃣. Memperdengarkan kalimat “Laa Illaaha Illallah” pada saat ia lahir

Kalimat tauhid inilah yang pertama kali harus kita perdengarkan di awal kehidupan anak-anak kita. Sehingga kalimat itu membekas dan menjadi cahaya bagi hati mereka.

💫Akan lebih baik apabila Ibu yang senantiasa mengajarkan kalimat-kalimat tersebut. Karena suara ibu berbeda dari suara-suara yang lain. Bahkan menurut penelitian para ahli, cara ibu berbicara atau berucap, akan lebih menguatkan pesan pada diri anak.

 2⃣. Mengajaknya untuk melakukan shalat sedari kecil

Shalat adalah sarana kita untuk berhubungan (berkomunikasi) dengan Allah. Karena itu wajib bagi orang tua Muslim untuk mengajarkannya semenjak dini. Seorang ibu yang hamil dan senantiasa menjaga waktu-waktu shalat, sebetulnya telah mengajarkan shalat kepada calon anaknya kelak.

Setelah anak lahir, kita dapat mengajaknya shalat bersama. Bagi balita terlebih batita, terkadang hal ini sulit dilakukan karena biasanya mereka akan bosan berdiam diri dalam waktu yang cukup lama. Hal seperti ini tidak perlu dipermasalahkan, tetaplah telaten mengajaknya. Yang penting mereka melihat kita shalat tepat waktu lima kali dalam sehari semenjak dini. Kelak ketika mereka berusia 2 tahun kita dapat mengenalkan shalat kepada mereka melalui cerita islami, dan kemudian berahap kepada cara berwudhu, shalat berjamaah dan seterusnya.

3⃣. Memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak

Mengajak anak mengenal Allah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah; terlebih kepada balita, dimana konsep pemikiran mereka masih segala sesuatu yang bersifat konkret. Terlebih membuat mereka mengerti sekaligus memahami bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu yang ada di bumi ini. Untuk itu penjelasan yang diberikan juga harus dimulai dari hal-hal yang sifatnya konkret, menuju abstrak. Misalkan ketika anak sakit maka kita dapat mengatakan, “Kakak minum obat dulu, ya. Setelah itu berdoa kepada Allah, semoga Allah yang Maha Berkehendak segera menyembuhkan Kakak.”

Mengenalkan Allah melalui sifat, dan namanya juga dapat dilakukan melalui kisah islami atau cerita islami yang berkaitan tentang mengenal Allah.

4⃣. Mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya serta mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Dalam suasana santai kita juga dapat mengajak anak untuk mengenal Allah. Seperti ketika mengajarkan anak untuk mengenal bagian-bagian tubuhnya; maka kita dapat mengatakan, “Subhanallah, Allah memang Maha Sempurna, ya, lihat tangan dan kaki adik Allah bentuk dengan begitu sempurna,” atau mengajaknya bersyukur karena lingkungan rumah yang sudah tidak banjir lagi.

💫Hal-hal sekecil apapun dapat kita kaitkan dengan sifat-sifat Allah.
Momen-momen menggembirakan anak, juga dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mengenalkan anak kepada Allah.

5⃣. Allah dulu, Allah lagi, dan Allah lagi

👳🏻Ustadz Yusuf Mansur sering ajarkan dalam setiap dakwahnya; apabila kita menginginkan sesuatu atau memiliki sebuah cita-cita; maka alangkah baiknya jika di awal kita “ceritakan” keinginan tersebut kepada Allah. Tujuannya agar Allah meridhoi dan memudahkan jalan kita. Setelah itu, sebelum melakukan ikhtiar, jangan lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Dan kemudian iringi usaha tersebut dengan kepasrahan akan hasil terbaik menurut Allah SWT.

💫Jika kita senantiasa melakukan hal di atas, secara tidak langsung anak pun akan belajar untuk selalu menyertakan Allah disetiap keinginnanya. Kita juga dapat membiasakan berucap “Insya Allah” saat anak meminta kita untuk berjanji, atau mengjak anak berdoa ketika ia menginginkan sesuatu. Contoh “Mari kita berdoa kepada Allah, semoga Allah memudahkan dan menambah rejeki ayah dan  ibu, sehingga ayah bisa segera membelikan mainan yang adik inginkan.”

Wallahu A'lam Bishawab.

📚Di ambil dari berbagai Sumber Islami.

_______________________________
   AIHQ PREMIUM DK PSDM
          🌵🏠ODOJ🏠🌵
_______________________________

SEORANG SUAMI DENGAN ISTRI DAN ANAK SHALIHAH


Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata
:
"Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan,berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia
menikahiku pada tahun 1390 H.
Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku
takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah
menganugerahkan kepadaku suamiku ini.

Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami. Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur
Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya)
dan pulang tinggal bersama kami seminggu.

Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam
perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan,
mobilnya terbalik.

Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih
lagi kedua orang tuanya lanjut usia.

Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia
rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang
disenanginya…

Kami senantiasa bergantian
menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang
menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak
bisa diharapkan lagi kesembuhannya.

Yang berfatwa demikian sebagian syaikh-aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu
bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan
tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut. Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini.

Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah
melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku
memasukannya ke sekolah tahfiz al- Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari
10 tahun. Dan aku telah
mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya.

Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia
sholat di penghujung malam padahal umurnya belum7tahun.

Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya,
demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk
menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah
aku malam ini tidur bersama ayahku…

Setelah keraguan menyelimuti ku akhirnya akupun mengizinkanya. Putriku bercerita : "Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga
selesai. Lalu rasa kantukpun
menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –
sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku,
“Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??,
bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah
tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku
(untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku
berlinang air mata-.
Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir(Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang
Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami
telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kami beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuh
kan nabi Ayyub dari penderitaan
nya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi
Yunus dari perut ikan paus,

Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi
Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak
mungkin lagi sembuh…
Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.
Tiba-tiba ada suara lirih menyeru..,“Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara
tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata
yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya
karena gembira dan bahagia…,
sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata,
“Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”.
Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter.
Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata – dengan bahasa Arab yang tidak fasih- :
“Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang
belulang yang telah kering…”.
Ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata,
ﺍﻟﻠﻪُ ﺧُﻴْﺮًﺍ ﺣًﺎﻓِﻈًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﻰ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ
Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh… (dia melajutkan)
demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk
berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat dhuha atau tidak..??
Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami
sebagaimana biasanya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra,

Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai
masuk tahun kedua.
Maha suci Allah Yang telah
mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…,
Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerah
kan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam
keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.
Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasa
nya di tangan Allah lah
pengaturan segala sesuatu…di
tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang
yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimuti
nya, sebab-sebab dan pintu-
pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)
(Berkata Ustadz Firanda Andirja)

Janganlah pernah putus asa… jika Tuhanmu adalah Allah…
Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci.Lalu yakinlah dengan pertolongan yang
dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html ,
Diterjemahkan oleh Ustadz FirandaAndirja)

Thursday, 11 February 2016

SEUNTAI DO'A PAGI BUAT SAUDARAKU


بِسْـــــــمِِ اللّهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْمِ
💕Yaa Allah....
jika saat ini saudara2ku tersenyum, semoga menjadi ibadah buatnya.....

💕Jika ia marah, semoga tak melampaui batasnya.....

💕Jika ia bersedih, semoga kesedihannya bisa menghidupkan hati dan jiwanya.....

💕Jika ia sakit, semoga menjadi penggugur dosa-dosanya dan jika ia ragu serta bimbang, mantapkan pendirian
dihatinya.....

💕Semoga apa yang ia lakukan hari ini, esok dan dikemudian hari, jauh lebih baik dari waktu yang telah lalu.....

💕Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertainya....

💕Yaa Allah...
muliakanlah yang membaca doa ini,
lapangkanlah hatinya dan bahagiakan keluarganya ......

💕Luaskanlah rezkinya,
mudahkan segala urusannya jauhkan ia dari segala penyakit, fitnah, prasangka keji dan mungkar serta terimalah semua amal ibadahnya dan kelak jadikanlah ia sebagai penghuni surgaMU.

💫"Yaa muqollibal quluub,tsabbit qolbii 'alaa diinik"💫

Wahai Dzat yang Maha Membolak balikkan hati,teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu

💕Aamiin Yaa Robbal 'Allamiin.

MALU PADA SI GANTENG -dan berjuang menjadi gagah-


@salimafillah

Saya tercenung-menung membayangkan lika-liku hidup lelaki ganteng itu. Dia mengalami begitu banyak hal di masa lalu yang mungkin, -bagi ukuran psikologi kita hari ini-, dapat menjadi pembenaran untuk kelak berperilaku menyimpang.

Pertama; saat masih menjadi bocah kecil, sibling rivalry (persaingan antar saudara) di dalam keluarganya telah amat parah. Dengki kakak-kakaknya pada dirinya begitu tinggi. Kebencian pada adik sendiri itu meruyak menjadi permufakatan yang amat jahat.

Kedua; dia mengalami percobaan pembunuhan yang amat sadis, dilempar ke dalam sumur menjelang senja. Bayangkan sosok mungil itu direnggut dari Ayah & Bunda yang menyayanginya, terluka, sendirian, sempit, gelap, sunyi. Pengalaman semacam ini amat memicu trauma. Claustrophobia (takut pada ruang sempit tertutup) dan Auchlophobia (takut pada gelap) dapat menjadi gejala yang membayangi hidupnya.

Ketiga; dia menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Kafilah niaga yang tak sengaja menemukannya ketika mengulurkan timba ke dalam sumur bersegera menjualnya sebagai budak dengan harga amat murah.

Keempat; dia mengalami sexual abuse (kekerasan seksual) dari orang yang amat dihormatinya. Nyonya rumah yang muda & cantik itu mengurungnya di ruangan tertutup, menggodanya, & menarik bajunya hingga robek. Lalu ketika Sang Tuan pulang, wanita bertipudaya itu balik memfitnahnya.

Kelima; dia mengalami sexual harrasment (perundungan seksual); ketika dengan niat balas dendam atas pergunjingan para wanita bangsawan padanya, oknum istri pejabat yang menggodanya itu menghimpun sebuah perjamuan, memaksa sang bujang tampil dengan pesonanya di tengah mereka. Para wanita yang mengiris jari itu, memintanya melakukan 'sesuatu' yang dijawabnya, "Duhai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada melakukan apa yang mereka ajakkan padaku."

Keenam; kriminalisasi. Dia harus hidup dalam penjara bukan karena kesalahannya. Dari sebuah kehidupan bangsawan yang megah dan mewah dia dijerembabkan ke dalam sel yang sempit dan jorok. Dia menjalaninya dengan tetap berdakwah pada kawan sejerujinya.

Ketujuh; pengkhianatan. Kawan yang dinubu'atkannya akan bebas dan menjadi penuang minuman raja, telah dipesan agar menyebut tentang dirinya di hadapan sang penguasa demi tegaknya keadilan. Tapi kawan itu lupa. Bertahun-tahun lamanya.

Jikapun sampai di sini saja; bukankah cukup alasan baginya untuk merasa bahwa hidupnya hancur, untuk menyimpan dendam, untuk merasa dunia ini kejam, untuk menyalahkan berbagai pihak & hal, serta untuk melakukan sesuatu yang keji namun selalu ada pembenarannya?

Tapi si ganteng itu memang menakjubkan. Dia tampil untuk menjadi penyelamat negeri dari paceklik mematikan. Dia tampil menanggung amanah yang tak sanggup dipikul orang lain. Dia mampu mengampuni semua yang pernah berlaku buruk dan menjadi sebab segala jatuh bangun dan seak-seok hidupnya. Dia rangkul sebelas bintang, bulan, dan matahari yang hendak bersujud itu supaya bersatu dalam pelukan damai, silatil arham, dan kemaafan.

Si ganteng itu, Yusuf 'Alaihis Salaam.

Maka di awal hikayat Allah menyebut kisahnya sebagai "sebaik-baik ceritera". Maka di akhir penceritaan Allah menegaskan bahwa dalam sebaik-baik kisah itu terdapat 'ibrah, pelajaran bagi orang-orang yang mendalam pemahamannya.

Dan kita amat ingin belajar menjadi si ganteng yang amat gagah menghadapi segala ketentuan Allah pada dirinya. Gagah justru karena bersandar kepada Allah. Sebab kuat lemahnya seseorang tergantung siapa sandarannya.

Sepahit apapun hidup kita, segetir apapun pengalaman diri, separah apapun lika-liku yang kita lalui; Yusuf adalah hujjah Allah agar kita tetap gagah menghadapi hidup ini. Semua insan hidup dalam berbagai bentuk ujian. Barangkali bentuknya tak serupa. Pun pula kadarnya berbeda. Tapi hakikatnya tetap sama.

Kepada kawan-kawan yang diuji dengan SSA (Same Sex Attraction) misalnya, menarik mundur garis waktu mungkin memang membuat Anda menemukan pembenaran diri dan sesuatu yang dapat disalahkan. Tapi jalan yang gagah adalah untuk tetap kembali pa
da Allah, mendengarkan nurani, dan menyimak apa firmanNya tentang tetap nista dan buruknya jalan untuk jatuh ke dalam aktivitas LGBT.

Semua insan diuji baik ketika berhadapan dengan syubhat bagi fikirannya maupun syahwat bagi hawa nafsunya. Rekan-rekan yang normalpun diuji Allah dengan betapa maraknya perzinaan, dan betapa dahsyatnya 'aurat diumbar. Semua diuji, ketika di gadget kita, berpindah dari keshalihan pada kemunkaran hanyalah satu kali klik atau satu sentuh tap.

Maka dibanding mereka, ujian anda hanya ditambah satu hal lagi; bahwa goda-goda syaithani bukan hanya lewat lawan jenis, melainkan melalui yang jauh lebih dekat, lebih akrab, lebih samar, lebih liar, lebih menantang.

Maka jadilah gagah karena selalu terhubung kepada Allah. Jadilah gagah dalam fikir karena syubhat tentang keadaan kita telah disibak oleh Quran. Jadilah gagah dalam rasa karena syahwat yang hendak menarik kita dalam dosa telah selalu kita adukan dengan taubat nashuha dalam hening bersamaNya.

Dia yang memperjalankan Yusuf dalam sebaik-baik kisah, juga menjaminkan sebaik-baik akhir bagi yang berani bertarung untuk menaklukkan syahwat dan hawa nafsunya.

"Dan adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya; maka surgalah tempat tinggalnya." (QS An Naazi'aat [79]: 40-41)

Selamat berhijrah. Selamat berjihad. Selamat menjadi gagah dengan bersandar kepada Allah. Dan selamat menonton "Ketika Mas Gagah Pergi",  #‎kmgpthemovie , yang di dalamnya ada pesan Mas Fisabilillah untuk "Move on! Moving on where? To what Allah say yes! Yes untuk sesuatu yang lebih baik!"

Di kutip dari grup silaturahmi odoj 229-434