Labels

Showing posts with label Shirah Shahabiyah. Show all posts
Showing posts with label Shirah Shahabiyah. Show all posts

Saturday, 27 February 2016

SAUDAH BINTI ZUM'AH

Saudah binti Zum’ah tidak terlalu populer dibandingkan dengan istri Rasulullah SAW lainnya. Namun, tetap termasuk wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan RasulNya. Dia telah ikut berjihad di jalan Allah dan termasuk wanita yang pertama kali hijrah ke Madinah. Perjalanan hidupnya penuh dengan teladan yang baik, terutama bagi wanita-wanita sesudahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menikahinya bukan semata-mata karena harta dan kecantikannya, karena memang dia tidak tergolong wanita cantik dan kaya. Yang dilihat Rasulullah adalah semangat jihadnya di jalan Allah, kecerdasannya, perjalanan hidupnya yang senantiasa baik, keimanannya, serta keikhlasannya kepada Allah dan RasulNya.

A. Dia adalah Seorang Janda

Telah kita ketahui bahwa pada tahun-tahun kesedihan karena ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah mengalami masa sulit. Kondisi seperti itu dimanfaatkan olah orang-orang Quraisy untuk menyiksa Rasulullah dan kaum muslimin. Pada tahun-tahun ini, terasa cobaan dan kesedihan datang sangat besar dan silih berganti.

Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. berpikir untuk kembali ke Thaif, dengan harapan agar orang-orang di Thaif memperoleh hidayah untuk masuk Islam dan membantu beliau. Akan tetapi, masyarakat Tsaqif menolak mentah-mentah kehadiran beliau, bahkan mereka memerintahkan anak-anak mereka melempari beliau dengan batu, hingga kedua tumit beliau luka dan berdarah. Walaupun begitu, beliau tetap sabar, bahkan tetap mendoakan mereka agar memperoleh hidayah.

Dalam keadaan kesepian sesudah kematian Khadijah, terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat Jibril membawa Rasulullah ke Baitul Maqdis dengan kendaraan Buraq, kemudian menuju langit ke tujuh, dan di sana beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Ketika kembali ke Mekah, beliau menuju Ka’bah dan mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan kisah perjalanan beliau yang sangat menakjubkan itu. Kaum musyrikin yang mendengar kisah itu tidak mempercayainya, bahkan mengolok-olok beliau.
Bertambahlah hambatan dan rintangan yang harus beliau hadapi. Dalam kondisi seperti itu, tampillah Saudah binti Zum’ah yang ikut berjuang dan senantiasa mendukung Rasulullah, kemudian dia menjadi istri Rasulullah yang kedua setelah Khadijah.

Terdapat beberapa kisah yang menyertai pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zum’ah. Tersebutlah Khaulah binti Hakim, salah seorang mujahid wanita yang pertama masuk Islam. Khaulah adalah istri Ustman bin Madh’um. Dia yang dikenal sebagai wanita yang berpendirian kuat, berani, dan cerdas, sehingga dia memiliki nilai tersendiri bagi Rasulullah. Melalui kehalusan perasaan dan kelembutan fitrahnya, Khaulah sangat memahami kondisi Rasulullah yang sangat membutuhkan pendamping, yang nantinya akan menjaga dan mengawasi urusan beliau serta mengasuh Ummu Kultsum dan Fathimah setelah Zainab dan Ruqayah menikah. Pada mulanya, Utsman bin Madh’um kurang sepakat dengan pemikiran Khaulah, karena khawatir hal itu akan menambah beban Rasulullah, namun dia tetap pada pendiriannya.

Kemudian Khaulah menemui Rasulullah dan bertanya langsung tentang orang yang akan rnengurus rumah tangga beliau. Dengan saksama, beliau mendengarkan seluruh pernyataan Khaulah karena baru pertama kali ini ada orang yang memperhatikan masalah rumah tangganya dalam kondisi beliau yang sangat sibuk dalam menyebarkan agama Allah. Beliau melihat bahwa apa yang diungkapkan Khaulah mengandung kebenaran, sehingga beliau pun bertanya, “Siapakah yang kau pilih untukku?” Dia menjawab, “Jika engkau menginginkan seorang gadis, dia adalah Aisyah binti Abu Bakar, dan jika yang engkau inginkan adalah seorang janda, dia adalah Saudah binti Zum’ah.” Rasulullah mengingat nama Saudah binti Zum’ah, yang sejak keislamannya begitu banyak memikul beban perjuangan menyebarkan Islam, sehingga pilihan beliau jatuh pada Saudah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalm. memilih janda yang namanya hanya dikenal oleh beberapa orang. Pernikahan beliau dengannya tidak didorong oleh keinginan untuk memenuhi nafsu duniawi, tetapi lebih karena Rasulullah yakin bahwa Saudah dapat ikut serta menjaga keluarga dan rumah tangga beliau setelah Khadijah wafat.

Jika kita rajin menyimak beberapa catatan sejarah tentang kehidupan Rasulullah yang berkaitan dengan Saudah binti Zum’ah, kita akan menemukan beberapa keterangan tentang sosok Saudah. Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar, berbadan gemuk, tidak cantik, juga tidak kaya. Dia adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Rasulullah memilihnya sebagai istri karena kadar keimanannya yang kokoh. Dia termasuk wanita pertama yang masuk Islam dan sabar menanggung kesulitan hidup.

B. Nasab dan Keislamannya

Saudah binti Zum’ah yang bernama lengkap Saudah binti Zum’ah bin Abdi Syamsin bin Abdud dari Suku Quraisy Amiriyah. Nasabnya ini bertemu dengan Rasulullah pada Luay bin Ghalib. Di antara keluarganya, dia dikenal memiliki otak cemerlang dan berpandangan luas. Pertama kali dia menikah dengan anak pamannya, Syukran bin Amr, dan menjadi istri yang setia dan tulus. Ketika Rasulullah menyebarkan Islam dengan terang-terangan, suaminya, Syukran, termasuk orang yang pertama kali menerima hidayah Allah. Dia memeluk Islam bersama kelompok orang dari Bani Qais bin Abdu Syamsin. Setelah berbai’at di hadapan Nabi, dia segera menemui istrinya, Saudah, dan memberitakan tentang keislaman serta agama baru yang dianutnya. Kecemerlangan pikiran dan hatinya menyebabkan Saudah cepat memahami ajaran Islam untuk selanjutnya mengikuti suami menjadi seorang muslimah.

C. Hijrah ke Habbasyah

Keislaman Syukran, Saudah, dan beberapa orang yang mengikuti jejak mereka berakibat cemoohan, penganiayaan, dan pengasingan dari keluarga terdekat mereka. Karena itu, Syukran menemui Rasulullah beserta beberapa keluarganya yang sudah memeluk Islam, seperti saudaranya (Saud dan Hatib), keponakannya (Abdullah bin Sahil bin Amr), ditambah saudara kandung Saudah (Malik bin Zum’ah). Rasulullah menasihati agar mereka tetap kokoh berpegang pada akidah dan menyarankan agar mereka hijrah ke Habasyah, mengikuti saudara-saudara seiman yang telah terlebih dahulu hijrah, seperti Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayah binti Muhammad. Akhirnya, kaum muslimin memutuskan untuk hijrah. Di antara kaum muslimin yang hijrah ke dua ke Habasyah, terdapat Saudah yang turut merasakan pedihnya meninggalkan kampung halaman serta sulitnya menempuh perjalanan dan cuaca buruk demi menegakkan agama yang diyakininya.

Di Habasyah mereka disambut dan diperlakukan baik oleh Raja Habasyah walaupun keyakinan mereka berbeda, sehingga beberapa hari lamanya mereka menjadi tamu raja. Akan tetapi, rasa rindu mereka dan keinginan untuk melihat wajah Rasulullah mendera mereka. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Mekah, mereka mengisi waktu dengan mengenang kehangatan berkumpul dengan Rasulullah dan saudara-saudara seiman di Mekah. Ketika mendengar keislaman Umar bin Khaththab, mereka menyambut dengan suka cita. Betapa tidak, Umar bin Khaththab adalah pemuka Quraisy yang disegani. Karena itu, mereka memutuskan untuk kembali ke Mekah dengan harapan Umar dapat menjamin keselamatan mereka dan gangguan kaum Quraisy. Di antara mereka yang ikut kembali adalah Syukran bin Amr. Akan tetapi, dalam perjalanan, Syukran jatuh sakit karena kelaparan sejak kakinya menginjak tanah Habasyah. Akhirnya dia meninggal di tengah perjalanan menuju Mekah.

Betapa sedih perasaan Saudah binti Zum’ah ketika mendengar suaminya meninggal dunia. Baru saja dia mengalami betapa sedihnya meninggalkan kampung halaman, sulitnya perjalanan ke Habasyah, cemoohan, dan penganiayaan orang-orang Quraisy, sekarang dia harus merasakan sedihnya ditinggal suami. Dia merasa kehilangan orang yang senantiasa bersamanya dalam jihad di jalan Allah.

D. Rahmat Allah

Saudah binti Zum’ah menanggung semua derita itu dengan kepasrahan dan ketabahan, serta menyerahkan semuanya kepada Allah dengan senantiasa mengharapkan keridhaanNya. Dia kembali ke Makkah sebagai satu-satunya janda, dengan perkiraan bahwa keadaan kaum muslimin di Makkah sudah membaik setelah beberapa pemuka Quraisy menyatakan memeluk Islam. Akan tetapi, ternyata kezaliman orang-orang Quraisy tetap merajalela. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada pilihan lain baginya selain kembali ke rumah ayahnya, Zum’ah bin Qais yang masih memeluk agama nenek moyang. Akan tetapi, Zum’ah bin Qais tetap menerima dan menghormati putrinya. Tidak sedikit pun dia berusaha membujuk agar putrinya meninggalkan Islam dan kembali menganut kepercayaan nenek moyang.

Ketika Khaulah binti Hakim berusaha mencarikan istri untuk Rasulullah, dia menyebut nama Saudah. Dalam diri Saudah, Rasulullah tidak melihat kecantikannya, tetapi lebih melihat bahwa Saudah adalah sosok wanita yang sabar, mujahidah yang hijrah bersama kaum muslimin, dan mampu menjadi pemimpin di rumah ayahnya yang masih musyrik. Karena itulah, Rasulullah tergerak menikahinya dan menjadikannya sebagai istri yang akan meringankan beban hidupnya. Khaulah menemui Saudah dan menyampaikan kabar gembira bahwa tidak semua wanita dianugerahi Allah menjadi istri Rasulullah serta menjadi istri manusia yang paling mulia dan hamba pilihan-Nya. Ketika bertemu dengan Saudah, Khaulah berteriak, “Apa gerangan yang telah engkau perbuat sehingga Allah memberkahimu dengan nikmat yahg sebesar ini?

Rasulullah mengutusku untuk meminang engkau baginya.” Sungguh, hal itu merupakan berita besar. Saudah tidak pernah memimpikan kehormatan sebesar itu, terutama setelah orang-orang mencampakkannya karena kematian suaminya. Rasulullah yang mulia benar-benar akan menjadikannya sebagai istri. Dengan perasaan terharu dia menyetujui permintaan itu dan meminta Khaulah menemui ayahnya. Setelah Zum’ah bin Qais mengetahui siapa yang akan meminang putrinya, dan Saudah pun sudah setuju, lamaran itu langsung diterimanya, kemudian meminta Rasulullah Muhammad datang ke rumahnya. Rasulullah memenuhi undangan tersebut bersama Khaulah, dan pernikahan  itu pun terlaksana...

To be continued

Wallahu 'alam bisshowwab.

________________________________
  

Thursday, 18 February 2016

Shirah Shahabiyah : AISYAH BINTI ABU BAKAR

📜Aisyah r.a, ia memiliki nama lengkap Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq Ibnu Abi Quhafah Ibn ‘Amr Ibn Ka’ab Ibnu Sa’id Taimi Ibn Marrah Ibnu Ka’ab Ibn Lu’ay.
Aisyah r.a lahir di Makkah sekitar empat atau lima tahun kenabian.  Aisyah r.a berkulit putih bersih dan parasnya sangat cantik sehingga di juluki Al Humaira'  dan diberi kunyah Ummu Abdillah. Selain itu, Rasulullah juga sering memanggil Aisyah r.a dengan sebutan “Bintush-Shidiq” (putri Ash-Shiddiq, yakni Abu Bakar).

🌷Ayah Aisyah r.a bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sahabat yang paling dicintai Nabi dan Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi. Abu Bakar dikenal dengan sifatnya yang pemurah, berani, jujur dan dermawan. Ia seorang tokoh Quraisy yang sangat disegani dan dihormati dikalangannya.

💟Ibu Aisyah r.a bernama Ummu Ruman binti Amir Al-Kinanah, termasuk wanita-wanita besar dari kalangan sahabat. Saudara perempuan kandungnya adalah Asma' binti Abu Bakar dan suami saudara perempuanya yaitu Zubair bin Awwam. Kakeknya dari pihak ayah adalah Abu Quhafah dan neneknya dari pihak ayah adalah Ummul Khair Salma binti Shakr yang turut masuk islam dan menjadi sahabat wanita Rasulullah SAW. Saudara kandung lelakinya adalah Abdurrahman bin Abu Bakar, seorang lelaki pemberani dan ahli memanah tersohor.

🔰Aisyah r.a tumbuh dan berkembang di lingkungan yang dijiwai oleh kebenaran islam, karena ia terlahir setelah Islam datang. Ayah dan ibunya termasuk kelompok yang pertama masuk Islam. Aisyah r.a sangat beruntung karena tidak pernah mendengar suara kekafiran dan kemusyrikan di rumahnya. Mengenai hal ini Aisyah r.a berkata : “Ketika pertama kali aku mengenal ayah-ibuku, keduanya telah memeluk Islam”.

💫Masa kecil Aisyah r.a sama seperti anak-anak lain pada umumnya. Ia suka bermain bersama teman-temannya. Boneka dan ayunan adalah permainan yang paling ia gemari. Akan tetapi Aisyah r.a bukan anak kecil biasa. Ia dapat mengingat dengan baik apa yang terjadi di masa kecilnya, termasuk hadits-hadits yang ia dengar dari Rasulullah SAW, bahkan ia bisa mengingat ayat al-Qur’an yang ia dengar saat ia masih kecil.

💕Rasulullah SAW menikahi Aisyah r.a setelah kepergian Khadijah. Sebelum menikah dengan Aisyah r.a, Rasulullah SAW pernah bermimpi didatangi oleh malaikat yang membawa secarik kain sutra yang berisi gambar Aisyah r.a, Bukhari meriwayatkan kisah itu sebagai berikut :

💞“Sebelum menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. Aku melihat malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Ku katakan kepadanya, ‘singkaplah’. Malaikat itu pun menyingkapnya, dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu ku katakan ‘jika ini merupakan ketetapan Allah, maka Dia pasti akaan membuatnya terjadi’. Pada kesempatan lain, aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka ku katakan kepadanya, ‘singkaplah’ dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata ‘jika ini merupakan ketetapan Allah, maka Dia pasti akaan membuatnya terjadi."

🌼Aisyah r.a menikah dengan Rasulullah SAW pada usia 6 tahun. Namun Ia baru hidup bersama Rasulullah SAW pada usia 9 tahun, yaitu pada 3 tahun setelah pernikahannya, ketika ummat Islam telah berhijrah ke Madinah.

🍀Sejak itu Aisyah r.a memulai kehidupan berumah tangganya bersama Rasulullah SAW yang sangat ia cintai. Aisyah r.a tinggal bersama dengan Rasulullah di sebuah kamar yang sempit di perkampungan Bani Najjar di sekeliling masjid Nabawi. Rumah yang jauh dari kata sejahtera dan nyaman apalagi istana yang mewah. Luas kamar Aisyah r.a kira-kira enam atau tujuh hasta. Dindingnya terbuat dari tanah liat. Atapnya terbuat dari pelepah daun kurma. Tidak dapat dipungkiri, kediaman Aisyah r.a bersama Rasulullah  memang jauh dari kemewahan duniawi, tapi lewat rumah inilah terpancar sumber cahaya Ilahi bagi pemiliknya.

📝Aisyah r.a adalah salah satu orang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Para sahabat megetahui dan mengakui hal itu. Jika mereka hendak memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW, maka mereka akan memilih hari dimana Rasulullah SAW sedang bersama Aisyah r.a.

Rasulullah pernah ditanya seorang sahabat mengenai siapa orang yang paling beliau cintai. Beliau menjawab ‘Aisyah r.a’. kemudian sahabat menjelaskan bahwa yang ia maksud adalah dari kaum laki-laki. Maka Rasulullah SAW pun menjawab ‘Ayah Aisyah r.a (Abu Bakar).

Rasulullah SAW mempunyai perhatian lebih dan memberikan keutamaan kepada Aisyah r.a Rasulullah bersabda :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

📜“Dari Abu Musa Al-Aasy’ari dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Banyak lelaki yang sempurna, tetapi belum ada wanita yang sempurna kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah isteri Fir’aun. Keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lain laksana keutamaan roti atas makanan-makanan lain."

✒Rasulullah SAW banyak menghabiskan waktunya di samping Aisyah r.a. di sisi lain Rasulullah SAW sering kali menerima wahyu pada saat bersama Aisyah r.a. ketika menderita sakit Rasulullah SAW selalu bertanya di mana beliau esok hari. Beliau seakan tidak sabar menunggu gilirannya di rumah Aisyah r.a. maka istri-istri yang lain mengizinkan beliau memilih tempat beliau akan dirawat di mana pun beliau suka. Rasulullah SAW pun memilih dirawat di rumah Aisyah r.a hingga akhirnya beliau wafat.

🎍Aisyah r.a beruntung karena memperoleh kehormatan untuk menjadi sahabat sekaligus istri yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sejak kecil hingga masa remajanya. Selama kurun waktu itu Aisyah r.a menjalani hidup di bawah bimbingan dan asuhan Rasulullah, seorang Nabi agung yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Lewat pendidikan yang ia terima dari Rasulullah SAW, Aisyah r.a mampu mencapai kesempurnaan akhlak. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Aisyah r.a menjadi sosok teladan bagi muslimah sejati. Ia memiliki sifat zuhud, wara’, taat pada agama, dermawan dan murah hati serta senantiasa bersikap penuh kasih sayang kepada sesamanya.

📎Aisyah r.a adalah sosok perempuan yang qana’ah. Ia menjalani hidup yang miskin dan bersahaja bersama Rasulullah SAW. Meskipun begitu, ia tak pernah mengeluh. Bahkan ketika para istri Nabi yang lain meminta tambahan jatah pangan pada saat perbendaharaan ummat Islam dibanjiri oleh harta yang melimpah ruah, Aisyah r.a sama sekali tidak mengajukan permintaan penambahan nafkah.
Aisyah r.a hidup dalam keadaan zuhud dan qana’ah. Ia tidak memakai baju maupun perhiasan yang mewah. Makanan yang lezat atau kehidupan yang nikmat merupakan sesuatu yang jauh dari kehidupan Aisyah r.a. Ia sangat berhati-hati dengan kemewahan duniawi yang melenakan. Itulah sebabnya Aisyah r.a enggan menerima kiriman hadiah untuk dirinya sendiri, baik itu berupa pakaian yang indah, mewah dan mahal harganya atau berupa makanan yang lezat citarasanya. Kehidupan Aisyah r.a yang sederhana terus berlangsug hingga ia wafat.
Selain sikap zuhudnya yang luar biasa, Aisyah r.a juga sosok yang sangat terkenal dengan kedermawanannya. Sifat ini ia warisi dari ayahnya, Abu Bakar. Keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq memang dikenal sebagai keluarga yang dermawan, seluruh hartanya diberikan untuk kepentingan dakwah Islam. Di luar itu semua, Aisyah r.a juga beruntung mendapat teladan langsung dari Rasulullah SAW, orang yang sangat peduli pada kaum dhuafa.
Urwah juga megatakan bahwa Muawiyah pernah mengirim utusan yang membawa 100.000 dirham untuk Aisyah r.a, dan ia bersaksi demi Allah, tidaklah matahari terbenam pada hari itu kecuali Aisyah r.a telah membagikan harta itu seluruhnya. Begitulah sikap dermawan pada diri Aisyah r.a, bahkan sampai ia lupa menyisihkan untuk dirinya sendiri.

🍁Adapun dalam hal ibadah, ketekunan dan kekhusyuan Aisyah r.a banyak dipengaruhi oleh ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, karena Aisyah r.a adalah orang yang paling dekat dengan beliau. Aisyah r.a lah yang banyak membawakan hadits-hadits yang disampaikan kepada orang banyak dengan cara yang amat sempurna, cermat serta jelas, utamanya bekenaan dengan ibadah Nabi yang khas, sampai kepada hal-hal yang sangat detail.

💠Aisyah r.a melaksanakan ibadah, termasuk ibadah-ibadah sunnah secara konsisten dan terus menerus. Ia tidak pernah meninggalkan sholat tahajud. Jika ia tertidur atau lupa sehingga tidak melaksanakan sholat malam, maka ia akan melaksanakannya sebleum sholat subuh. Aisyah r.a juga menganjurkan kepada setiap orang agar melakukannya pada setiap malam secara istiqomah. Aisyah r.a juga sangat gemar melakukan puasa sunnah secara beuntun. Ia melalui sebagian besar harinya dengan berpuasa. Bahkan ketika kondisinya sangat lemah sampai harus disiram air, ia tetap tidak bergeming untuk membatalkan puasanya. Adapun untuk pelaksanaan ibadah haji, Aisyah r.a selalu mengerjakannya setiap tahun. Tidak terhitung berapa kali ia menunaikan ibadah haji dan umrah. Aisyah r.a pernah melakukan haji bersama Rasulullah SAW pada waktu haji wada’.

⚠Namun demikian, Aisyah ra juga pernah mengalami cobaan yang sangat berat dengan tuduhan bohong terhadap dirinya. Tuduhan bohong itu telah menorehkan luka yang sangat dalam di hati Aisyah ra. Sejak tuduhan itu tersebar aisyah ra juga seluruh keluarga Nabi SAW dan keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a menjalani hari-hari yang sangat berat dan menyesakkan dada. Kondisi ini berlangasung selama satu bulan.

💧Dan berkat kesabaranya yang luar biasa, akhirnya Allah SWT mengumumkan kesucian Aisyah r.a dengan turunya wahyu, dalam wahyu itu Allah menurunkan firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu..."(Q.S. An Nur :11) hingga lengkap 10 ayat.

💓Aisyah r.a sangat bijak dan prihatin dalam mengatur kehidupannya. Ia selalu menjaga agar hidupnya berlangsung seperti dan dalam suasana semasa Rasulullah SAW masih hidup di sampingnya. Hal tersebut tetap berlaku hingga Aisyah r.a menyusul kepergian Rasulullah SAW.

😭Aisyah r.a wafat tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 58 H. Sebelum wafat Aisyah r.a berpesan agar ia dikuburkan pada malam hari, maka malam itu juga jasad aisyah dimakamkan tepat setelah shalat witir.  Ia juga berwasiat agar dirinya tidak dikuburkan bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar di kamarnya karena ia merasa tidak layak mendapat kehormatan tersebut disebabkan aisyah melakukan suatu kesalahan yaitu terlibat dalam perang jamal. Ia ingin dikuburkan di Baqi’ bersama sahabat-sahabat lainnya.

🌻Pada waktu itu Abu Hurairah sedang menjabat sebagai gubernur sementara kota Madinah. Ia pun mengimami sholat jenazah. Kemudian jenazah Aisyah r.a dikebumikan di Baqi’ sesuai dengan wasiatnya. Kaum muslimin turut serta mengantarkan jenazahnya sampai ke pemakaman.
Pada malam Aisyah r.a wafat, para perempuan berkumpul di Baqi’, seakan-akan malam itu adalah hari raya. Tidak pernah ada orang berkumpul sebanyak itu pada suatu malam kecuali pada malam wafatnya Aisyah r.a. salah satu lentera ilmu telah padam untuk selamanya. Semua orang tenggelam dalam kesedihan seakan-akan mereka kehilangan ibu kandungnya sendiri.

Wallahu'alam bisshowwab.

________________________________
   AIHQ PREMIUM DK PSDM
           🌵🏠ODOJ🏠🌵
________________________________

Wednesday, 17 February 2016

Wafatnya Abdullah Ayahanda Rosulullah


Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam belum pernah melihat ayahnya yang telah meninggal dunia di Madinah, ditengah-tengah keluarga paman dari pihak ibunya dari Bani 'Adi bin Najjar. Pada saat ada kepentingan dagang, lalu ia jatuh sakit ketika ia hendak kembali. Dan akhirnnya meninggal dunia, lalu dikubur disana. Dan riwayat yang paling kuat adalah perkataan Az-zuhri secara mursal : "Abdul Muthalib mengutus Abdullah bin Abdul Muthalib mengurus kurma yang dibawa dari yatsrib lalu Abdullah meninggal dunia ditengah perjalannya.Tidak lama kemudian Aminah melahirkan Rasululloh dan beliau berada dibawah asuhan kakeknya, Abdul Muthalib. Ada sebuah hadist yang sesuai dengan perkataan Az-zuhri yaitu diriwayatkan oleh Qais bin Makhramah seorang sahabat yang menyebutkan kelahiran Rasululloh, ia berkata : "Ayahnya meninggal dunia ketika ibunya sedang mengandungnya."( Al-hakim, Al-mustadrak 2:605).
Yang Masyhur bahwa Nabi dilahirkan dalam keadaan yatim. Ibnu katsir berkata : "Ini merupakan keyatiman yang sangat baik dan palinh tinggi derajatnya"(ibnu katsir, As-sirah 1:260).
Dan didalam Alquran telah disebutkan keyatiman beliah : "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?"(QS. Ad-dhuha : 6).

💫Perihal kehamilan Aminah💫

Ada riwayat-riwayat yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain sampai derajat hasan, seputar masalah kelahiran beliau yang menyatakan bahwa ketika Aminah melahirkan, ia melihat seberkas cahaya keluar dari dirinya dan menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam

🍼Wanita-Wanita yang pernah menyusui Nabi🍼

Dalam hadist shahih dinyatakan bahwa tsuwaibah -hamba sahaya abu lahab- pernah menyusui beliau. Dinyatakan dalam suatu riwayat bahwa paman beliau Hamzah bin Abdul Muthalib adalah saudara sepersusuan beliau. Adapun riwayat tentang Halimah As-Sa'diyah yang menyusui beliau dr Bani saad dan keberkahan yang beliau didusun bani sa'ad dan keberkahan yang beliau bawa, maka riwayat ini terdapat hampir diseluruh buku-buku sirah, baik yang kuno maupun yang baru, dan yang pertama kali menampilkan ini dalam buku sirah adalah Muhammad bin Ishaq (wafat 151 H).
Dan penyusuan nabi kepada Halimah As-Sa'diyah di Bani Sa'ad tetap kuat periwayatannya karena didukung oleh riwayat-riwayat dari jalan lain.

________________________________
   AIHQ PREMIUM DK PSDM
                       ODOJ
________________________________

Thursday, 11 February 2016

KHADIJAH BINTI KHUWAILID (bagian 2)


KHADIJAH BINTI KHUWAILID (bagian 2)

D. Pada Masa Kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.

Muhammad bin Abdullah hidup berumah tangga dengan Khadijah binti Khuwailid dengan tenteram di bawah naungan akhlak mulia dan jiwa suci sang suami. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, menjadi tempat mengadu orang-orang Quraisy dalam menyelesaikan perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka. Hal itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan Rasulullah di hadapan mereka pada masa pra kenabian. Beliau menyendiri di Gua Hira, menghambakan diri kepada Allah yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim a.s.

Khadijah sangat ikhlas dengan segala sesuatu yang dilakukan suaminya dan tidak khawatir selama ditinggal suaminya. Bahkan dia menjenguk serta menyiapkan makanan dan minuman selama beliau di dalam gua, karena dia yakin bahwa apa pun yang dilakukan suaminya merupakan masalah penting yang akan mengubah dunia. Ketika itu, Nabi Muhammad berusia empat puluh tahun.

🗻Suatu ketika, seperti biasanya beliau menyendiri di Gua Hira –waktu itu bulan Ramadhan–. Beliau sangat gemetar ketika mendengar suara gaib Malaikat Jibril memanggil beliau. Malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, namun beliau hanya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Akhirnya, Malaikat Jibril mendekati dan mendekap beliau ke dadanya, seraya berkata, “Bacalah, wahai Muhammad!” Ketika itu Muhammad sangat bingung dan ketakutan, seraya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Mendengar itu, Malaikat Jibril mempererat dekapannya, dan berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Dia mengajari manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan segala sesuatu yang belum mereka ketahui.” Rasulullah Muhammad mengikuti bacaan tersebut. Keringat deras mengucur dari seluruh tubuhnya sehingga beliau kepayahan dan tidak menemukan jalan menuju rumah. Khadijah melihat beliau dalam keadaan terguncang seperti itu, kemudian memapahnya ke rumah, serta berusaha menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran yang memenuhi dadanya. “Berilah aku selimut, Khadijah!” Beberapa kali beliau meminta istrinya menyelimuti tubuhnya. Khadijah memberikan ketenteraman kepada Rasulullah dengan segala kelembutan dan kasih sayang sehingga beliau merasa tenteram dan aman. Beliau tidak langsung menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada Khadijah karena khawatir Khadijah menganggapnya sebagai ilusi atau khayalan beliau belaka.

E. Pribadi yang Agung

Setelah rasa takut beliau hilang, Khadijah berupaya agar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengutarakan apa yang telah dialaminya, dan akhirnya beliau pun menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Khadijah mendengarkan cerita suaminya dengan penuh minat dan mempercayai semuanya, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa bahwa istrinya pun menduga akan terjadinya hal-hal seperti itu.

💫Sejak semula Khadijah telah yakin bahwa suaminya akan menerima amanat Allah Yang Maha Besar untuk seluruh alam semesta. Kejadian tersebut merupakan awal kenabian dan tugas Muhammad menyampaikan amanat Allah kepada manusia. Hal itu pun merupakan babak baru dalam kehidupan Khadijah yang dengannya dia harus mempercayai dan meyakini ajaran Rasulullah Muhammad, sehingga Rasulullah mengatakan, “Aku mengharapkannya menjadi benteng yang kuat bagi diriku.”

Di sinilah tampak kebesaran pribadi serta kematangan dan kebijaksanaan pemikiran Khadijah. Khadijah telah mencapai derajat yang tinggi dan sempurna, yang belum pernah dicapai oleh wanita mana pun. Dia telah berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, “Demi Allah, Allah tidak akan menyia- nyiakanmu Engkau selalu menghubungkan silaturahim, berbicara benar, memikul beban orang lain, menolong orang papa, menghorrnati tamu, dan membantu meringankan derita dan musibah orang lain.”

🔖Setelah Rasulullah merasa tenteram dan dapat tidur dengan tenang, Khadijah mendatangi anak pamannya, Waraqah bin Naufal, yang tidak terpengaruhi tradisi jahiliah. Khadijah menceritakan kejadian yang dialami suaminya. Mendengar cerita mengenai Rasulullah, Waraqah berseru, “Maha Mulia…Maha Mulia…. Demi yang jiwa Waraqah dalam genggaman-Nya, kalau kau percaya pada ucapanku, maka apa yang diihat Muhammad di Gua Hira itu merupakan suratan yang turun kepada Musa dan Isa sebelumnya, dan Muhammad adalah nabi akhir zaman, dan namanya tertulis dalam Taurat dan Injil.” Mendengar kabar itu, Khadijah segera menemui suaminya (Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam) dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Waraqah.

F.Awal Masa Jihad di Jalan Allah

Khadijah meyakini seruan suaminya dan menganut agama yang dibawanya sebelum diumumkan kepada masyarakat. Itulah langkah awal Khadijah dalam menyertai suaminya berjihad di jalan Allah dan turut menanggung pahit getirnya gangguan dalam menyebarkan agama Allah.

Beberapa waktu kemudian Jibril kembali mendatangi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. untuk membawa wahyu kedua dari Allah:

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh(balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstir:1-7)

📜Ayat di atas merupakan perintah bagi Rasulullah untuk mulai berdakwah kepada kalangan kerabat dekat dan ahlulbait beliau. Khadijah adalah orang pertama yang menyatakan beriman pada risalah Rasulullah Muhammad dan menyatakan kesediaannya menjadi pembela setia Nabi. Kemudian menyusul Ali bin Abi Thalib, anak paman Rasulullah yang sejak kecil diasuh dalam rumah tangga beliau. Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, kemudian Zaid bin Haritsah, hamba sahaya Rasulullah yang ketika itu dijuluki Zaid bin Muhammad. Dari kalangan laki-laki dewasa, mulailah Abu Bakar masuk Islam, diikuti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, az-Zubair ibnu Awam, Thalhah bin Ubaidilah, dan sahabat-sahat lainnya. Mereka masuk menyatakan Islam secara sembunyi-sembunyi sehingga harus melaksanakan shalat di pinggiran kota Mekah.

G. Masa Berdakwah Terang-terangan

Setelah berdakwah secara sembunyi- sembunyi, turunlah perintah Allah kepada Rasulullah untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Karena itu, datanglah beliau ke tengah-tengah umat seraya berseru lantang, “Allahu Akbar, Allahu Akbar… Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan.” Seruan beliau sangat aneh terdengar di telinga orang-orang Quraisy. Rasulullah Muhammad memanggil manusia untuk beribadah kepada Tuhan yang satu, bukan Laata, Uzza, Hubal, Manat, serta tuhan-tuhan lain yang mernenuhi pelataran Ka’bah. Tentu saja mereka menolak, mencaci maki, bahkan tidak segan-segan menyiksa Rasulullah. Setiap jalan yang beliau lalui ditaburi kotoran hewan dan duri.

🌺Khadijah tampil mendampingi Rasulullah dengan penuh kasih sayang, cinta, dan kelembutan. Wajahnya senantiasa membiaskan keceriaan, dan bibirnya meluncur kata-kata jujur. Setiap kegundahan yang Rasulullah lontarkan atas perlakuan orang-orang Quraisy selalu didengarkan oleh Khadijah dengan penuh perhatian untuk kemudian dia memotivasi dan menguatkan hati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Bersama Rasulullah, Khadijah turut menanggung kesulitan dan kesedihan, sehingga tidak jarang dia harus mengendapkan perasaan agar tidak terekspresikan pada muka dan mengganggu perasaan suaminya. Yang keluar adalah tutur kata yang lemah lembut sebagai penyejuk dan penawar hati.

🚨Orang yang paling keras menyakiti Rasulullah adalah paman beliau sendiri, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab, beserta istrinya, Ummu Jamil. Mereka memerintah anak-anaknya untuk memutuskan pertunangan dengan kedua putri Rasulullah, Ruqayah dan Ummu Kultsum. Walaupun begitu, Allah telah menyediakan pengganti yang lebih mulia, yaitu Utsman bin Affan bagi Ruqayah. Allah mengutuk Abu Lahab lewat firman-Nya :

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dan sabut. “ (QS. Al-Lahab:1-5)

💞Khadijah adalah tempat berlindung bagi Rasulullah. Dari Khadijah, beliau memperoleh keteduhan hati dan keceriaan wajah istrinya yang senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarluaskan agama Allah ke seluruh penjuru. Khadijah pun tidak memperhitungkan harta bendanya yang habis digunakan dalam perjuangan ini. Sementara itu, Abu Thalib, paman Rasulullah, menjadi benteng pertahanan beliau dan menjaga beliau dari siksaan orang-orang Quraisy, sebab Abu Thalib adalah figur yang sangat disegani dan diperhitungkan oleh kaum Quraisy.

H.Pemboikotan Kaum Quraisy terhadap Kaum Muslimin

✊🏻Setelah berbagai upaya gagal dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, baik itu berupa rayuan, intimidasi, dan penyiksaan, kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot dan mengepung kaum muslimin dan menulis deklarasi yang kemudian digantung di pintu Ka’bah agar orang-orang Quraisy memboikot kaum muslimin, termasuk Rasulullah, istrinya, dan juga pamannya. Mereka terisolasi di pinggiran kota Mekah dan diboikot oleh kaum Quraisy dalam bentuk embargo atas transportasi, komunikasi, dan keperluan sehari-hari lainnya.

⛔Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah dan istrinya dapat bertahan, walaupun kondisi fisiknya sudah tua dan lemah. Ketika itu kehidupan Khadijah sangat jauh dan kehidupan sebelumnya yang bergelimang dengan kekayaan, kemakmuran, dan ketinggian derajat. Khadijah rela didera rasa haus dan lapar dalam mendampingi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan kaum muslimin. Dia sangat yakin bahwa tidak lama lagi pertolongan Allah akan datang. Keluarga mereka yang lain, sekali-kali dan secara sembunyi-sembunyi, mengirimkan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun, tetapi tidak sedikit pun menggoyahkan akidah mereka, bahkan yang mereka rasakan adalah bertambah kokohnya keimanan dalam hati. Dengan demikian, usaha kaum Quraisy telah gagal, sehingga mereka mengakhiri pemboikotan dan membiarkan kaum muslimin kembali ke Mekah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pun kembali menyeru nama Allah Yang Mulia dan melanjutkan jihad beliau.

I. Wafatnya Khadijah

Beberapa hari setelah pemboikotan, Abu Thalib jatuh sakit, dan semua orang meyakini bahwa sakit kali ini merupakan akhir dan hidupnya. Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufyan dan Abu Jahal membujuk Abu Thalib untuk menasehati Muhammad agar menghentikan dakwahnya, dan sebagai gantinya adalah harta dan pangkat. Akan tetapi, Abu Thalib tidak bersedia, dan dia mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak akan bersedia menukar dakwahnya dengan pangkat dan harta sepenuh dunia.

😭Abu Thalib meninggal pada tahun itu pula, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sebaliknya, orang-orang Quraisy sangat gembira atas kematian Abu Thalib itu, karena mereka akan lebih leluasa mengintimidasi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya.

😭Pada tahun yang sama, Sayyidah Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan itu. Semakin hari, kondisi badannya semakin menurun, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam semakin sedih. Bersama Khadijah-lah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia enam puluh lima tahun, Khadijah meninggal, menyusul Abu Thalib. Khadijah dikuburkan di dataran tinggi Mekah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sendiri yang mengurus jenazah istrinya, dan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika melepas kepergiannya adalah: “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalab Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

Khadijah meninggal setelah mendapatkan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki oleh wanita lain, Dia adalah Ummul Mukminin istri Rasulullah yang pertama, wanita pertama yang mernpercayai risalah Rasulullah, dan wanita pertama yang melahirkan putra-putri Rasulullah. Dia merelakan harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dialah orang pertama yang mendapat kabar gembira bahwa dirinya adalah ahli surga. Kenangan terhadap Khadijah senantiasa lekat dalam hati Rasulullah sampai beliau wafat. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Khadijah binti Khuwailid dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.

Selesai

KHADIJAH BINTI KHUWAILID (Bagian 1)


Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”Khadijah adalah wanita pertama yang hatinya tersirami keimanan dan dikhususkan Allah untuk memberikan keturunan bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., menjadi wanita pertama yang menjadi Ummahatul Mukminin, serta turut merasakan berbagai kesusahan pada fase awal jihad penyebaran agama Allah kepada seluruh umat manusia.

Khadijah adalah wanita yang hidup dan besar di lingkungan Suku Quraisy dan lahir dari keluarga terhormat pada lima belas tahun sebelum Tahun Gajah, sehingga banyak pemuda Quraisy yang ingin mempersuntingnya. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah. Suami pertama Khadijah adalah Abu Halah at-Tamimi, yang wafat dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Pernikahan kedua Khadijah adalah dengan Atiq bin Aidz bin Makhzum, yang juga wafat dengan meninggalkan harta dan perniagaan. Dengan demikian, Khadijah menjadi orang terkaya di kalangan suku Quraisy.

A. Wanita Suci

Sayyidah Khadijah dikenal dengan julukan wanita suci sejak perkawinannya dengan Abu Halah dan Atiq bin Aidz karena keutamaan akhlak dan sifat terpujinya. Karena itu, tidak heran jika kalangan Quraisy memberikan penghargaan dan berupa penghormatan yang tinggi kepadanya.

Kekayaan yang berlimpahlah yang menjadikan Khadijah tetap berdagang. Akan tetapi, Khadijah merasa tidak mungkin jika semua dilakukan tanpa bantuan orang lain. Tidak mungkin jika dia harus terjun langsung dalam berniaga dan bepergian membawa barang dagangan ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas. Kondisi itulah yang menyebabkan Khadijah mulai mempekerjakan beberapa karyawan yang dapat menjaga amanah atas harta dan dagangannya. Untuk itu, para karyawannya menerima upah dan bagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Walaupun pekerjaan itu cukup sulit, bermodalkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan pikiran yang didukung oleh pengetahuan dasar tentang bisnis dan bekerja sama, Khadijah mampu menyeleksi orang-orang yang dapat diajak berbisnis. Itulah yang mengantarkan Khadilah menuju kesuksesan yang gemilang.

Khadijah memiliki seorang pegawai yang dapat dipercaya dan dikenal dengan nama Maisarah. Dia dikenal sebagai pemuda yang ikhlas dan berani, sehingga Khadijah pun berani melimpahkan tanggung jawab untuk pengangkatan pegawai baru yang akan mengiring dan menyiapkan kafilah, menentukan harga, dan memilih barang dagangan. Sebenarnya itu adalah pekerjaan berat, namun penugasan kepada Maisarah tidaklah sia-sia.

Kaum Quraisy tidak mengenal pemuda mana pun yang wara, takwa, dan jujur selain Muhammad bin Abdullah, yang sejak usia lima belas tahun telah diajak oleh Maisarah untuk menyertainya berdagang.

Seperti biasanya, Maisarah menyertai Muhammad ke Syam untuk membawa dagangan Khadijah, karena memang keduanya telah sepakat untuk bekerja sama. Perniagaan mereka ketika itu memberikan keuntungan yang sangat banyak sehingga Maisarah kembali membawa keuntungan yang berlipat ganda. Maisarah mengatakan bahwa keuntungan yang mereka peroleh itu berkat Muhammad yang berniaga dengan penuh kejujuran. Maisarah menceritakan kejadian aneh selama melakukan perjalanan ke Syam dengan Muhammad. Selama perjalanan, dia melihat gulungan awan tebal yang senantiasa mengiringi Muhammad yang seolah-olah melindungi beliau dari sengatan matahari. Dia pun mendengar seorang rahib yang bernama Buhairah, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah laki-laki yang akan menjadi nabi yang ditunggu-tunggu oleh orang Arab sebagaimana telah tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Cerita-cerita tentang Muhammad itu meresap ke dalam jiwa Khadijah, dan pada dasarnya Khadijah pun telah merasakan adanya kejujuran, amanah, dan cahaya yang senantiasa menerangi wajah Muhammad. Perasaan Khadijah itu menimbulkan kecenderungan terhadap Muhammad di dalam hati dan pikirannya, sehingga dia menemui anak pamannya, Waraqah bin Naufal, yang dikenal dengan pengetahuannya tentang orang- orang terdahulu. Waraqah mengatakan bahwa akan muncul nabi besar yang dinanti-nantikan manusia dan akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Allah. Penuturan Waraqah itu menjadikan niat dan kecenderungan Khadijah terhadap Muhammad semakin bertambah, sehingga dia ingin menikah dengan Muhammad. Setelah itu dia mengutus Nafisah, saudara perempuan Ya’la bin Umayyah untuk meneliti lebih jauh tentang Muhammad, sehingga akhirnya Muhammad diminta menikahi dirinya.

Ketika itu Khadijah berusia empat puluh tahun, namun dia adalah wanita dari golongan keluarga terhormat dan kaya raya, sehingga banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya. Muhammad pun menyetujui permohonan Khadijah tersebut. Maka, dengan salah seorang pamannya, Muhammad pergi menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin As’ad untuk meminang Khadijah.

B. Istri Pertama Rasulullah

Allah menghendaki pernikahan hamba pilihan-Nya itu dengan Khadijah. Ketika itu, usia Muhammad baru menginjak dua puluh lima tahun, sementara Khadijah empat puluh tahun. Walaupun usia mereka terpaut sangat jauh dan harta kekayaan mereka pun tidak sepadan, pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang aneh, karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.

Khadijah adalah istri Nabi yang pertama dan menjadi istri satu-satunya sebelum dia meninggal. Allah menganugerahi Nabi Shallallahu alaihi wassalam. melalui rahim Khadijah beberapa orang anak ketika dibutuhkan persatuan dan banyaknya keturunan. Dia telah mernberikan cinta dan kasih sayang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pada saat-saat yang sulit dan tindak kekerasan dan kekejaman datang dari kerabat dekat. Bersama Khadijah, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mernperoleh per1akuan yang baik serta rumah tangga yang tenteram damai, dan penuh cinta kasih, setelah sekian lama beliau merasakan pahitnya menjadi anak yatim piatu dan miskin.

C.Putra-putri Khadijah dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.

Khadijah melahirkan dua orang anak laki-laki, yaitu Qasim dan Abdullah serta empat orang anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Seluruh putra dan putrinya lahir sebelum masa kenabian, kecuali Abdullah. Karena itulah, Abdullah kemudian dijuluki ath-Thayyib (yang baik) dan ath-Thahir (yang suci).

Zainab banyak menyerupai ibunya. Setelah besar, Zainab dinikahkan dengan anak bibinya, Abul Ash ibnur Rabi’. Pernikahan Zainab ini merupakan peristiwa pertama Rasulullah menikahkan putrinya selain itu beliau menikahkan Ummu Kultsum dan Ruqayah dengan utsman bin Affan ra dan fatimah dengan Ali bin abi Thalib. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam diutus menjadi Rasul, Fathimah az-Zahra, putri bungsu beliau masih kecil.

Selain mereka ada juga Zaid bin Haritsah yang sering disebut putra Muhammad. Semula, Zaid dibeli oleh Khadijah dari pasar Mekah yang kemudian dijadikan budaknya. Ketika Khadijah menikah dengan Muhammad, Khadijah memberikan Zaid kepada Muhammad sebagai hadiah. Rasulullah sangat mencintai Zaid karena dia memiliki sifat-sifat yang terpuji. Zaid pun sangat mencintai Rasulullah. Akan tetapi di tempat lain, ayah kandung Zaid selalu mencari anaknya dan akhirnya dia mendapat kabar bahwa Zaid berada di tempat Muhammad dan Khadijah. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk memohon agar beliau mengembalikan Zaid kepadanya walaupun dia harus membayar mahal. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memberikan kebebasan penuh kepada Zaid untuk memilih antara tetáp tinggal bersamanya dan ikut bersama ayahnya. Zaid tetap memilih hidup bersama Rasulullah, sehingga dari sinilah kita dapat mengetahui sifat mulia Zaid.

Agar pada kemudian hari nanti tidak menjadi masalah yang akan memberatkan ayahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan Zaid bin Haritsah menuju halaman Ka’bah untuk mengumumkan kebebasan Zaid dan pengangkatan Zaid sebagai anak. Setelah itu, ayahnya merelakan anaknya dan merasa tenang. Dari situlah mengapa banyak yang menjuluki Zaid dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Akan tetapi, hukum pengangkatan anak itu gugur setelah turun ayat yang membatalkannya, karena hal itu merupakan adat jahiliah, sebagaimana firman Allah berikut ini:

”Panggillah mereka (anak angkat itu)dengan memakai nama bapak-bapak (kandung)mereka.."(QS. Al Ahzab : 5)

Bersambung..

Sumber : 35 Sirah Shahabiyah, Mahmud Al Mishri.